Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Agustus 2012

Biarlah

Puisi berikut ini kuterima dari seorang sahabat, Budi Setiawan alias Wawan Jenggot, sebagai kado pernikahan kami. Suamiku membuatnya menjadi lagu. Pertama kali kami menyanyikannya bersama Jubing Kristianto di Rumah Budaya Tembi pada tanggal 13 Februari 2010


Biarlah air sungaiku bawa hatimu
temukan ikan di lautan
Saat gelap malam bintang jatuh
terangi jalan

Biarlah angin bawa cintaku padamu
tak seindah kuncup daun awal musim

Biarlah tanganku bimbingmu ke altar
dan bunga tumbuh menantang hidup

Biarlah semua berjalan
dengan seluruh napas kita
kian pelan
kian perlahan

http://www.youtube.com/watch?v=Mx-aRuZWi-0


Selasa, 26 Juni 2007

Sepercik Damai

Sepercik Damai

Erat terpatri dalam benak
Bumi bergetar, samudra bergolak, pun gunung berontak
Aceh, Nias, Padang, Nabire luluh lantak
Nun di Thailand, Srilanka, India, Maladewa pun jauh di Kenya
Gelora samudra menghentak-hentak
Jerit tangis pilu mengiris dada
Hilang somah, rumah, sawah, pun segala
Habis kikis tiada sisa

Kuat melekat dalam ingatan
Bedil, pistol, granat, pun meriam
Mendesing, menggelegar
Aceh meleleh, Papua berduka,
Irak terserak, Palestina membara,
Pun Afrika sana merana
Hilang harapan, lupa kata, habis bahasa
Bilakah ramai berganti damai?

Lilin tlah menyala
Laksana sepercik damai di tengah prahara
Biarlah damainya memercik ke sudut hati
Nyalanya tersimpan dalam ingatan
Hangatnya merasuk setiap kalbu
Wartakan damai ke segala bangsa

simbok, 18 Agustus 2005